Lisan adalah pintu yang paling sering mengantarkan seseorang pada kebaikan maupun keburukan. Karena itu, adab berbicara termasuk pelajaran paling awal yang perlu ditanamkan kepada anak.
Islam tidak hanya mengatur apa yang boleh diucapkan, tetapi juga bagaimana cara mengucapkannya: nadanya, waktunya, dan kepada siapa. Anak yang terbiasa menjaga lisan akan lebih mudah diterima di mana pun ia berada.
Artikel ini merangkum adab berbicara dalam Islam untuk anak beserta dalil dan langkah praktis mengajarkannya.
Ringkasan cepat — adab berbicara dalam Islam untuk anak:
- Berkata jujur dan tidak melebih-lebihkan.
- Berbicara lembut serta merendahkan suara, terutama kepada orang tua.
- Berkata baik atau diam, tidak mencela dan tidak berkata kasar.
- Tidak memotong pembicaraan dan mau mendengarkan lawan bicara.
- Menjauhi ghibah dan adu domba serta tidak membicarakan aib orang lain.
1. Mengapa Adab Berbicara Penting dalam Islam
Setiap kata yang keluar dari mulut manusia tercatat dan akan dimintai pertanggungjawaban. Menyadarkan anak akan hal ini menumbuhkan kehati-hatian yang berasal dari keimanan, bukan sekadar takut ditegur.
|
📖 Dalil: 'Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).' (QS. Qaf: 18) — Kesadaran bahwa setiap ucapan dicatat malaikat membuat anak berpikir sebelum berbicara. |
Rasulullah SAW menegaskan, 'Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.' (HR. Bukhari dan Muslim). Kaidah ringkas ini mudah dihafal anak dan bisa dijadikan pegangan sehari-hari.
2. Berkata Jujur dan Benar
Fondasi adab berbicara adalah kejujuran. Anak perlu dibiasakan menyampaikan apa adanya, meskipun ia khawatir akan ditegur. Justru di sinilah peran orang tua: jangan memberi hukuman berlebihan pada anak yang mengaku jujur, agar ia tidak belajar berbohong demi selamat.
|
📖 Dalil: 'Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.' (QS. Al-Ahzab: 70) — Perkataan yang benar (qaulan sadidan) adalah standar dasar komunikasi seorang muslim. |
Orang tua juga tidak boleh berbohong kepada anak, sekalipun untuk menenangkannya. Cara membiasakannya diulas pada cara mengajarkan kejujuran pada anak dalam Islam.
3. Berbicara Lembut dan Merendahkan Suara
Islam mencela cara bicara yang kasar dan bernada tinggi. Nasihat Luqman kepada anaknya secara khusus menyinggung hal ini.
|
📖 Dalil: 'Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.' (QS. Luqman: 19) — Merendahkan suara adalah bagian dari adab yang diajarkan langsung dalam Al-Qur an kepada seorang anak. |
Latih anak berbicara dengan nada tenang, bukan berteriak dari ruangan lain. Bila anak terlanjur terbiasa berkata kasar, penanganannya dibahas pada cara mengatasi anak suka berkata kasar menurut Islam.
4. Berbicara Mulia kepada Orang Tua
Adab tertinggi dalam berbicara ditujukan kepada kedua orang tua. Al-Qur'an bahkan melarang ucapan sekecil kata 'ah' kepada mereka.
|
📖 Dalil: 'Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.' (QS. Al-Isra: 23) — Larangan ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan adab lisan anak terhadap orang tuanya. |
Ajarkan anak menjawab panggilan dengan segera, tidak membantah dengan nada tinggi, dan menggunakan kata yang santun. Pembahasan menyeluruhnya ada pada adab anak kepada orang tua dalam Islam.
5. Tidak Memotong Pembicaraan dan Mau Mendengarkan
Adab berbicara juga mencakup adab mendengar. Anak perlu dilatih menunggu giliran bicara dan tidak menyela orang yang sedang berbicara.
Rasulullah SAW dikenal mendengarkan lawan bicaranya dengan penuh perhatian, bahkan ketika berbicara dengan anak kecil. Biasakan pula anak menatap lawan bicara dan menjawab dengan kalimat lengkap, bukan sekadar gumaman.
6. Menjauhi Ghibah, Mencela, dan Adu Domba
Anak-anak mudah menirukan kebiasaan membicarakan kekurangan orang lain, terutama bila mendengarnya di rumah. Jelaskan dengan bahasa sederhana bahwa membicarakan keburukan orang lain adalah perbuatan yang dilarang.
Ajarkan pula agar tidak memanggil teman dengan julukan yang merendahkan. Kebiasaan ini erat kaitannya dengan sopan santun secara umum, sebagaimana dibahas pada cara mengajarkan anak sopan santun sejak dini.
7. Cara Praktis Mengajarkan Adab Berbicara pada Anak
Adab tidak cukup diajarkan lewat ceramah. Beberapa langkah berikut lebih efektif diterapkan sehari-hari:
- Jadilah teladan. Anak meniru cara orang tua berbicara kepada pasangan, pembantu, maupun kepada dirinya.
- Koreksi saat itu juga dengan tenang. Ulangi kalimat anak dalam versi yang santun, lalu minta ia mengulanginya.
- Biasakan kalimat kunci. Tolong, terima kasih, maaf, dan permisi diucapkan setiap hari di rumah.
- Apresiasi ucapan yang baik. Puji anak ketika ia berbicara sopan agar perilaku itu menguat.
- Batasi tontonan yang kasar. Kosakata anak banyak terbentuk dari apa yang ia dengar berulang-ulang.
Penerapan adab ini juga berlaku saat anak berbicara dengan gurunya, sebagaimana diulas pada cara mengajarkan anak menghormati guru menurut Islam.
Komentar
Komentar pembaca
Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.
Tinggalkan komentar