"Bodoh!", "Aku benci mama!", atau kata-kata kotor yang tiba-tiba keluar dari mulut anak — sering kali membuat orang tua terkejut sekaligus khawatir. Dari mana ia belajar kata seperti itu, dan bagaimana menghentikannya?
Perkataan kasar pada anak umumnya bukan lahir dari hati yang buruk, melainkan hasil meniru apa yang ia dengar — dari rumah, teman, atau tontonan. Anak adalah peniru ulung; ia menyerap kata tanpa selalu paham maknanya, lalu mengujinya untuk melihat reaksi orang di sekitarnya.
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Menariknya, memperbaiki ucapan anak selalu dimulai dari memperbaiki ucapan dan teladan orang tuanya. Artikel ini membahas cara mengatasi anak yang suka berkata kasar menurut Islam secara bertahap.
Ringkasan cepat — mengatasi anak yang suka berkata kasar:
- Cari sumbernya: anak meniru dari lingkungan terdekat.
- Jadi teladan: jaga lisan orang tua lebih dulu.
- Ajarkan adab bicara: berkata baik atau diam.
- Sadarkan anak bahwa setiap ucapan dicatat malaikat.
- Ganti kata kasar dengan kalimat baik, konsisten dan sabar.
1. Dari Mana Anak Belajar Berkata Kasar?
Langkah pertama adalah menelusuri sumbernya. Kata kasar biasanya datang dari lingkungan terdekat: perkataan orang tua saat marah, obrolan orang dewasa yang tak sengaja terdengar, teman bermain, atau tontonan dan game. Terkadang anak memakainya sekadar untuk mencari perhatian atau meniru gaya yang ia anggap "keren".
Setelah tahu sumbernya, Anda bisa menutup keran itu: menjaga ucapan di rumah, menyeleksi tontonan, dan mendampingi pergaulan. Menghilangkan sumber jauh lebih efektif daripada sekadar melarang.
2. Islam Sangat Menjaga Lisan
Lisan memiliki kedudukan besar dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.' (HR. Bukhari & Muslim). Beliau juga menegaskan bahwa seorang mukmin sejati bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, serta berkata keji maupun kotor (HR. Tirmidzi).
Ajarkan anak sejak dini bahwa mulut yang baik adalah ciri orang beriman. Sampaikan dengan bahasa sederhana: "Anak yang disayang Allah selalu berkata baik."
|
📖 Dalil: 'Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)...' (QS. Al-Isra: 53) — Allah memerintahkan hamba-Nya memilih ucapan yang terbaik, sebuah adab yang perlu ditanamkan pada anak sejak dini. |
3. Perbaiki Ucapan Diri Sendiri Lebih Dulu
Teladan adalah guru paling ampuh. Jika orang tua mudah melontarkan kata kasar saat marah, anak akan menyerapnya sebagai hal yang normal. Maka langkah paling menentukan justru ada pada diri kita: menjaga ucapan, meminta maaf ketika keliru, dan berbicara dengan lembut meski sedang kesal.
Ini bagian dari membangun akhlak keluarga secara menyeluruh, seperti dibahas dalam cara membangun akhlak mulia anak sejak dini. Anak yang tumbuh di rumah yang santun akan terbiasa bertutur santun.
4. Sadarkan bahwa Setiap Ucapan Dicatat
Tanamkan kesadaran ruhani pada anak bahwa kata-kata bukan tanpa akibat. Setiap ucapan kita diawasi dan dicatat oleh malaikat. Kesadaran ini menumbuhkan rasa tanggung jawab atas lisan sejak kecil.
|
📖 Dalil: 'Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).' (QS. Qaf: 18) — Kesadaran bahwa setiap ucapan tercatat menuntun anak lebih berhati-hati menjaga lisannya. |
Dengan memahami ini, anak belajar bahwa berkata baik bernilai kebaikan, sedangkan kata kasar bisa mendatangkan dosa — sebuah kesadaran yang menuntunnya menahan diri. Hal ini juga berkaitan erat dengan menumbuhkan rasa malu, sebagaimana dibahas di cara menanamkan rasa malu (haya') pada anak.
5. Ganti Kata Kasar dengan Kalimat yang Baik
Melarang tanpa memberi alternatif jarang berhasil. Ajarkan anak kalimat pengganti: alih-alih berkata kasar saat marah, ajak ia berkata "aku sedang kesal" atau "aku tidak suka itu". Biasakan pula kalimat thayyibah, seperti mengucap istighfar saat marah, serta membiasakan kata "maaf", "tolong", dan "terima kasih".
Puji setiap kali anak berhasil memilih kata yang baik. Apresiasi memperkuat perilaku jauh lebih efektif daripada hukuman. Latih pula kebiasaan meminta maaf lewat cara mengajarkan anak meminta maaf dan memaafkan.
6. Beri Konsekuensi yang Tenang, Bukan Balas Membentak
Ketika anak berkata kasar, hindari membalas dengan bentakan — itu justru mencontohkan hal yang kita larang. Tanggapi dengan tenang namun tegas: jelaskan bahwa kata itu menyakiti dan tidak boleh diucapkan, lalu minta ia mengulang dengan kata yang baik.
Bila perlu, terapkan konsekuensi yang wajar dan konsisten, misalnya menghentikan sejenak tontonan atau permainan yang menjadi sumber kata kasar. Sikapi dengan sabar dan lembut, selaras dengan pendekatan gentle parenting menurut Islam; perubahan kebiasaan lisan butuh waktu dan pengulangan.
Penutup: Lisan yang Baik adalah Bagian dari Iman
Memperbaiki lisan anak adalah proses menanam yang buahnya dipetik bertahun kemudian. Dengan menutup sumbernya, menjadi teladan yang menjaga ucapan, mengajarkan adab berbicara, dan sabar membimbing, Anda sedang mengukir salah satu ciri terindah seorang mukmin: lisan yang baik.
Iringi ikhtiar dengan doa, memohon kepada Allah agar menjaga lisan seluruh anggota keluarga. Karena menjaga lisan bukan hanya urusan sopan santun, melainkan bagian dari iman.
Komentar
Komentar pembaca
Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.
Tinggalkan komentar