Banyak anak berhasil menghafal Al-Qur'an, tetapi tidak sedikit yang hafalannya perlahan hilang. Penyebabnya bukan karena kurang cerdas, melainkan karena kurang murojaah.
Murojaah berarti mengulang kembali hafalan yang sudah dikuasai. Inilah kunci yang membedakan hafalan yang bertahan seumur hidup dengan hafalan yang menguap dalam hitungan bulan.
Artikel ini membahas cara mengajarkan anak murojaah hafalan Al-Qur'an secara rutin agar hafalannya tetap terjaga.
Ringkasan cepat — cara mengajarkan anak murojaah hafalan:
- Jadikan murojaah rutinitas harian, bukan kegiatan sesekali.
- Pilih waktu terbaik saat anak segar, seperti setelah Subuh.
- Bagi murojaah menjadi hafalan baru dan hafalan lama.
- Variasikan metode agar anak tidak bosan mengulang.
- Dampingi dan koreksi bacaan anak dengan sabar.
1. Mengapa Murojaah Sangat Penting
Hafalan Al-Qur'an bersifat mudah hilang bila tidak dijaga. Rasulullah SAW menggambarkan hal ini dengan perumpamaan yang sangat tepat.
Beliau bersabda, 'Perumpamaan orang yang hafal Al-Qur'an adalah seperti pemilik unta yang terikat. Jika ia terus menjaganya, ia dapat menahannya; dan jika ia melepaskannya, ia akan pergi.' (HR. Bukhari dan Muslim). Murojaah adalah tali yang mengikat hafalan itu agar tidak lepas.
2. Jadikan Murojaah sebagai Rutinitas Harian
Murojaah tidak boleh dilakukan sesekali saat teringat saja. Ia harus menjadi bagian tetap dari hari anak, sama seperti makan dan tidur.
Alokasikan waktu khusus setiap hari, meski hanya sepuluh hingga lima belas menit. Konsistensi harian jauh lebih menjaga hafalan daripada mengulang lama tetapi jarang. Masukkan ke dalam jadwal harian anak islami agar terbiasa.
3. Pilih Waktu Terbaik untuk Murojaah
Waktu murojaah berpengaruh pada kualitasnya. Pilih saat anak masih segar dan pikirannya jernih, seperti setelah sholat Subuh atau menjelang tidur.
|
📖 Dalil: 'Kami akan membacakan (Al-Qur an) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa.' (QS. Al-Ala: 6) — Allah menjaga hafalan Nabi-Nya dari lupa. Bagi kita, penjagaan itu diikhtiarkan melalui pengulangan di waktu-waktu terbaik. |
Waktu setelah Subuh dikenal sebagai saat yang penuh berkah dan pikiran masih jernih. Bangunkan anak dengan lembut untuk memulai hari dengan Al-Qur'an.
4. Bagi Murojaah: Hafalan Baru dan Hafalan Lama
Murojaah yang teratur membagi pengulangan menjadi dua bagian. Pertama, mengulang hafalan yang baru saja dikuasai agar semakin kuat. Kedua, mengulang hafalan lama secara bergilir agar tidak terlupakan.
Susun jadwal sederhana, misalnya mengulang hafalan baru setiap hari dan memutar hafalan lama beberapa surat per hari. Cara ini memastikan seluruh hafalan tersentuh secara berkala tanpa memberatkan anak.
5. Variasikan Metode agar Anak Tidak Bosan
Mengulang hal yang sama berkali-kali mudah membuat anak jenuh. Karena itu, variasikan cara murojaah agar tetap menarik.
Beberapa variasi yang bisa dicoba: membaca bergantian dengan orang tua, menyimak murottal lalu melanjutkan, murojaah sambil sholat sunnah, atau meminta anak mengajarkan hafalannya kepada adik. Variasi menjaga semangat sekaligus memperkuat ingatan.
6. Dampingi dan Koreksi dengan Sabar
Peran orang tua sangat menentukan keberhasilan murojaah. Sediakan waktu untuk menyimak bacaan anak dan membetulkan kekeliruannya dengan tenang.
Ketika anak keliru, cukup ulangi bacaan yang benar tanpa nada tinggi, agar ia tidak takut. Pendekatan lembut ini selaras dengan cara mendidik pada cara mengendalikan emosi dan berhenti marah pada anak.
7. Iringi dengan Doa dan Keteladanan
Menjaga hafalan adalah ikhtiar lahir yang perlu disempurnakan dengan doa. Ajarkan anak memohon kepada Allah agar dimudahkan menjaga Al-Qur'an.
|
📖 Dalil: 'dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.' (QS. Taha: 114) — Doa memohon tambahan ilmu ini mengajarkan anak bahwa menjaga hafalan adalah gabungan usaha dan pertolongan Allah. |
Anak juga lebih semangat murojaah bila melihat orang tuanya turut menjaga bacaan Al-Qur'an. Keteladanan adalah motivasi yang paling membekas.
Komentar
Komentar pembaca
Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.
Tinggalkan komentar